Minggu, 21 November 2010

Bisnis “Kroyokan”, Kenapa sering Bermasalah ya?


Temen-temen, ini ada temen saya namanya Pak Budi. Beliau ini sedang ada masalah, pingin curhat, begini kira-kira inti ceritanya:

"Awalnya kami bertiga sepakat bekerjasama bikin lembaga kursus bahasa Inggris. Modal awal dari 2 temen saya tadi, sementara saya tidak boleh urunan dulu, alasannya belum butuh banget. Walau begitu saya tetep keluar uang walau tidak sebanyak temen saya. Dikemudian hari setelah kelihatan ramai, mereka menggandeng seseorang (kakak salah satu temen saya) untuk bekerja sama. Kemudian saya ditinggal begitu saja, uang modal yang saya setor dikembalikan (dianggap pinjaman) dan saya diperlakukan layaknya karyawan biasa. Tentu saja saya kecewa & sakit hati Pak.Bagaimana ini Pak?"

Begini Tanggapan saya,

Bisnis yang dibangun secara kroyokan (melibatkan banyak orang) seringkali menemui banyak masalah di kemudian hari. Memang ada yang sukses juga, contohnya Microsof dan Google itu dibangun oleh 2 sahabat yang hasilnya sukses luar biasa.

Yang sukses itu biasanya dibangun secara profesional, ada perjanjian2 yang tertuang dlm MOU baik menyangkut permodalan, job discription (pembagian kerja), maupun profit sharing (pembagian keuntungannya). Bahkan seandainya nanti terjadi hal-hal yg tidak diinginkan (kisruh), mereka sdh menyiapkan solusi dari awal.

Tapi di lingkungan kita yang sering terjadi biasanya "nggampangno" di awal. Gak mau bicara hal-hal yang buruk di awal, mengalir begitu saja, setelah ada masalah baru mereka bingung mesti gimana. Biasanya yang jadi pemicu adalah sifat serakah yang muncul, hingga saling berebut untuk saling menguasai. Akibatnya, ada yang dirugikan (menjadi korban), baik secara materi maupun non materi.

Faktor lain yang sering jadi penyebab perpecahan adalah perbedaan pendapat, prinsip, karakter, etos kerja, rasa iri, karena pembagian kerja yang gak jelas. Menyatukan dua kepala saja susah apalagi bertiga, berempat, dst. Banyak kasus seperti itu terjadi, bahkan saya sendiri pernah mengalami.

Menurut pendapat saya, kalau memulai usaha sebaiknya sendiri saja, semampunya, menyesuaikan modal dan kemampuan/SDM yang kita miliki. Kalau milik sendiri kadang semangatnya bisa full, lebih efisien waktu (gak harus saling menunggu) dan bisa menghemat cost (biaya operasional). Kalau di tengah perjalanan ada yang tidak mampu kita kerjakan, yaaa...bayar tenaga ahli saja Pak, enak kan?

Seandainya sudah terlanjur kisruh seperti kasus Bapak, menurut saya Bapak sebaiknya mengalah saja. Toh Bapak sudah dapat ilmu dari mereka. "Mengalah Untuk menang" begitu kata orang bijak. Insya Alloh untuk ke depannya jalan Bapak lebih lapang, syaratnya Bapak harus lapang dada (ikhlas) menerima ketidaknyamanan ini. Kalaupun toh masih menyimpan dendam, buatlah "dendam positif", harus menjadi "lebih baik" dari mereka. Jadi kalau nanti ada modal, Bapak bisa buka usaha sejenis, jadi kompetitornya kan gak papa Pak, betul nggak?

OK Pak Budi, kiranya itu yang bisa saya sharing kan, kalau ada yang kurang jelas, silahkan Bapak bertanya lagi. Saya senang bisa membantu, semampu saya... Matur nuwun (terima kasih).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar